Sunday, February 26, 2017

[Review] JINGGA UNTUK MATAHARI – Esti Kinasih



Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Teenlit, Family Drama, Series
Terbit : 2017
Tebal : 448 hlm
ISBN : 978 – 602 – 03 – 3723 – 4
Harga : Rp. 98.000
Setelah bertahun-tahu Ari mencoba mencari keberadaan ibu dan saudara kembarnya. Akhirnya, pencarian itu selesai juga. Sekarang, mereka ada begitu dekat dengannya. Keinginan agar keluarga Ari bisa kembali utuh lagi, tampak sudah di depan mata.
Sayangnya, ternyata selama ini Ari tak tahu apa-apa tentang keadaan keluarganya. Bahkan, apa alasan ibu dan saudara kembarannya tak lagi bersama, dia juga tak tahu menahu.
“...bahwa dalam setiap kebahagiaan sering kali tidak sepenuhnya seperti yang terlihat, dan dalam kesedihan juga sering kali tidak sepenuhnya hanya tentang itu.” – hlm. 123

Ata – saudara kembar Ari – awalnya dia bisa bersikap baik pada Ari. Namun, dendam yang terus berkobar di dadanya tak mampu membuat Ata menyembunyikan kebenciannya pada Ari dan ayahnya.
Kemarahan Ata memuncak saat bertemu sang ayah. Setiap detail luka masa lalu, Ata ceritakan pada Ari. Ari hancur, tentu saja. Apalagi saat Ari tahu, Ata membencinya dan tidak mempercayainya.
 Ini emang kejam, tapi ini realitas. Jadi lo harus terima.” – Raka – hlm. 333
Ata mulai melancarkan penyerangannya. Sebuah taktik yang membuat Ari goyah. Ata benar-benar ingin membalas dendam untuk setiap luka yang dia rasakan selama sembilan tahun itu.

Jingga untuk Matahari – JUM, novel yang sangat ditunggu pembaca Esti Kinasih, khususnya para Pembaca Seri Jingga dan Senja. Sekitar enam tahun lamanya, akhirnya seri ketiga Jingga dan Senja ini lahir juga.
JUM benar-benar fenomenal. Peluncurannya pun super fenomenal. Apalagi Pre Ordernya, aiihh... spektakuler banget. Dalam 1 hari, sold. Dari kehebohannya itu, aku sangat berharap penantian panjang bisa dibayar tuntas, lunas, melegakan. Namun, kenyataan novel ini bakal lahir adiknya lagi, bikin aku menghela napas. Ternyata, Esti Kinasih masih pengin menguji pembacanya.
Aku baca novel seri pertama dan keduanya sudah super lama, saat aku belum kenal blog. Jadi, nggak usah di cari reviewnya, nggak ada. Pada saat itu, saat aku baca seri pertama dan kedua, usia masih belasan. Jadi, ceritanya beneran bikin baper, apalagi sikap Ari ke Tari yang super preman, tapi kadang bisa sweet banget.
Nah, saat ketemu novel seri ketiganya... erg... boleh jujur? Biarkan aku jujur, ya? Mohon aku jangan ditimpuk pake apapun, mohon jangan merasa aku ingin menjatuhkan novel ini, dsb. Ini asli isi hatiku yang terdalam. Terpakasa, dari awal aku harus bilang, aku kecewa dengan novel ini.
Pertama, gaya bahasa penulis nggak seenak dulu, nggak semantap saat aku baca novel Dia Tanpa Aku, Jingga dan Senja, juga Jingga dalam Elegi. Rasanya, terlalu belibet. Bikin pembaca harus mikir maksud penulis.
Kedua, tentang reaksi berlebihan anak-anak yang satu sekolah sama Ata.
Sejak Ata di Malang, reaksi cewek-cewek di sekitar Ata itu super nggak banget. Ata itu anak ABG yang ganteng, aku tahu itu. Cuma, seganteng-gantengnya cowok, kayaknya nggak sedramatis itu deh efeknya.
Kecuali, Ata itu anak SMA yang tiba-tiba jadi artis gara-gara challenge pencarian bakat. Lalu, dia balik ke sekolah lagi. Silahkan deh bikin reaksi kayak begitu.
Yang makin nggak banget itu, saat Ata masuk ke sekolah Ari. Reaksi mereka super heboh, dan itu nggak rasional. Masak, sampai bikin kegaduhan super ngeganggu? Kalau sekedar deketin nggak masalah, lah. Dan, yang berani begitu, juga nggak anak satu sekolah gitu. Paling berapa cewek aja, biar kelihatan normal.
Oke, mungkin karena Ata itu 99% mirip Ari, dan Ari adalah pentolan sekolah. Cuma, mari kita pikirkan, seberapa aneh sih kita ngelihat anak kembar? Udah biasa, kan? Paling cuma, wah ada anak kembar! Udah. Nggak sampai sebegitu excited-nya sampai bikin aku...erg... Ata itu masih manusia...woooeee..bukan dewa yang jatuh ke bumi, bukan anggota Suju juga, jadi...please...reaksinya nggak usah kayak apaan aja.
Kalau mau penasaran, nah...itu normal. Nanya-nanyain Tari tentang Ari-Ata itu juga juga biasa. Tapi, kalau udah mulai lebay, aku angkat tangan ke kamera deh.
Konflik keluarga Ari-Ata udah kayak benang kusut yang sulit banget diurai. Teka-tekinya di setiap bagian memang bikin penasaran, tapi makin ke belakang malah bikin bosen. Aku kangen tulisan Mbak Esti yang enak, ringan, meski ceritanya punya konflik berat. 
Selain itu, reaksi shock Tari juga terlalu banget. Setelah mendengar cerita Ari yang sangat menyedihkan, Tari langsung lemas. Oke, sekali lagi aku katakan, cerita Ari menyedihkan, cuma kayaknya nggak sampai bikin Tari mau pingsan gitu. Bolehlah nangis, dan itu memang reaksi yang harus terjadi mengingat seperti apa karakter Tari.
Di halaman 286, aku merasa sangat terganggu sama cara Ari memanggil supir taksi dengan sebutan ‘oom’. Kayaknya lebih enak kalau manggilnya pakai ‘pak’ aja deh. Biasanya aku sih begitu. Nggak tahu kalo orang Jakarta gimana. Apakah sama seperti cara Ari atau cara aku yang bukan orang Jakarta?
Trus mobil Everest yang dulu sering dipake Ari buat nyamar sebagai Ata di depan Tari itu, sebenarnya punyanya Ari atau Raka, sih? Seingat aku kok punyanya Ari, ya. Tapi, di novel ketiga ini kok punyanya Raka. Atau aku aja yang lupa saking lamanya novel kedua aku baca.
Yang seru dari novel seri ini adalah interaksi Ari-Tari. Sayang banget, cuma dikit sekali. Nah, mulai dari adegan Ari curhat ke Tari tentang semua masalahnya, cerita mulai asyik. Bisa jadi, karena konfliknya udah mulai pindah fokus. Nggak lagi ngubek-ubek masalah keluarga Ari-Ata. Si Tari nggak sekedar hadir sebagai tempelan seperti di awal, dia mulai punya fungsi. Dan kisahnya mulai seru.
Sayangnya, pas seru-serunya, malah udah sampai ending. Pinter banget deh, Mbak Esti ngegantungin pembacanya.
Satu sanjungan lagi buat penulisnya, tebakan aku meleset, penulis nggak bikin konflik cinta segitiga antara Tari, Ari dan Ata. Lega.
Meski udah merasakan keseruan meski seiprit, aku tetap ngasih novel ini bintang 1 dari 5 bintang. Moga-moga seri berikutnya bisa membuat aku puas.


Thursday, February 16, 2017

[Traveling] PACITAN LAGI – Pantai Kasap, Kali Cokel, Srau, Watukarung, dan Sruni




Traveling itu bikin kangen. Makanya, pas Pak Jokowi ngasih libur dadakan gara-gara Pemilu, kita gunakan liburan ini buat eksplor Pacitan lagi.
Pacitan lagi...Pacitan lagi...!!!
Jangan salah, Pacitan punya destinasi yang beranak pinak. Ada saja yang baru setiap tahunnya.
Obyek eksplor kali ini bisa dibilang cuma dua tempat. Namun, dalam satu tempat itu, ada beberapa obyek wisata yang bisa dikunjungi langsung tanpa pindah parkiran.

Lokasi pertama yang kita kunjungi adalah Pantai Kasap. Pantai ini lokasinya bisa dibilang jadi satu sama Kali Cokel, Pantai Watukarung, dan Pantai Sruni. Tepatnya berada di Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku, Pacitan.  Kalau mau ke sini dari Pacitan kota ambil jurusan Pantai Srau. Ada pertigaan Dadapan ambil kiri. Terus sampai ketemu pertigaan – ke kiri Srau, ke kanan Watukarung – ambil ke kanan. Setelah masuk ke loket Watukarung, ambil kiri. Kalau ke kanan itu ke Watukarung.
Parkiran Pantai Kasap jadi satu sama Lokasi Kali Cokel
Seperti yang aku bilang tadi, aku nggak perlu pindah parkir untuk mengunjungi empat tempat ini. Cukup parkir di Lokasi Kali Cokel, lalu jalan kaki lewat kebun warga kita udah ketemu Pantai Kasap.
Sayangnya, waktu ke sana jalan becek karena kemarin hujan. Kita harus hati-hati. Pakai alas kaki  yang aman untuk dijalan becek dan licin.

Di Pantai Kasap ini ada tempat yang view-nya mirip di Raja Ampat Irian Jaya. Insting mengatakan tempat itu ada di bukit bagian kanan Pantai Kasap. Kita sudah mulai menaiki bukit tersebut, tapi insting malah mengatakan kita salah pilih bukit. Mungkin tempat itu ada di balik bukit kiri Pantai Kasap.
Ini bukit kanan ya Pantai Kasap, bukit menuju Raja Ampat KW5
Kita sudah jalan menuju bukit di kiri Pantai Kasap. Ternyata, pas tanya mbak-mbak yang camping di sana, tempat yang kita cari tadi ada di balik bukit yang kanan, alias pilihan pertama kita tadi udah benar. Padahal anggota lain udah sampai di Pantai yang letaknya di kiri Pantai Kasap dan sudah heboh foto. Pantai yang ada di kiri Pantai Kasap namanya pantai Sruni. Tapi, aku nggak sampai ke situ karena harus balik ke bukit yang tadi.


Dari pada makan waktu lagi kalau manggil mereka yang sudah sampai di Pantai Sruni, kita – empat lainnya termasuk aku – pilih langsung jalan lagi ke bukit di kanan Pantai Kasap – balik lagi ke bukit pertama.
Ombak Pantai Sruni, nyuss...
Mengikuti jalur setapak yang cuma muat satu orang, dan pinggir sudah laut, fokus harus benar-benar waspada karena jalan licin dan rumput suka nakal – bikin beberapa kali nyangkut kaki.

Naik-naik...pucuk...pucuk

Track ke atas bukit menuju si Raja Ampat KW 5 ini nggak kelihatan. Harus benar-benar cermat banget. Untungnya, ada mas-mas yang turun dari bukit, jadi bisa kita tanya apakah jalan kita benar atau salah. Katanya sih bener, jadi kita langsung semangat menerjang tracking yang ‘super sekali’.
 
Track yang kita hadapi ini naik bukit dengan kemiringan hampir 90 derajat dengan medan yang berbatu dan ilalang yang masih tebal. Kaki dan tangan harus kompak untuk mendakinya. Nggak usah hiraukan panas dan kotor, yang penting sampai ke atas.
Ini perjuangan saat turun
Saat ketemu dua mas-mas lagi, dia bilang track yang kita pilih ini track cowok, mungkin karena medannya yang sulit. Cuma udah dapat setengah, rugi kalau pindah ke track cewek yang katanya lebih landai. Jadi, aku jawab aja, “Tenang mas, kita-kita ini setengah cowok.” Masnya cuma senyum sambil jawab,”Oh, ya udah.”

Sampai di balik bukit, waoo...terpesona sama bukit-bukit kecil yang menyeruak di laut. Beneran KW 5-nya Raja Ampat.
video

Sebenarnya masih belum puas menikmati Raja Ampatnya Jawa Timur ini, tapi karena udah dipanggil sama rombongan yang menikmati Pantai Sruni – untuk segera balik, mau nggak mau kita harus segera turun. Kali ini, kami turun lewat track cewek. Memang landai dan lebih mudah. Tapi, tetep waspada, pinggil track ini lepas laut. Sekali lengah...blung...nggak usah tanya akhirnya gimana.
Sampai di parkiran, kita istirahat sebentar sambil menikmati es kelapa. Lalu kita lanjut ke Kali Cokel yang letaknya hanya beberapa langkah dari tempat parkir. Sayang banget, karena hujan air Kali Cokel jadi cokelat. Kalau pas nggak hujan, airnya bisa hijau.

Kita menyewa dua perahu untuk 11 orang. Perorang kena tarif  Rp. 15.000. Kalau anggota banyak gini, harus berani nawar. Pasti bisa dapat diskon.
Perahu mulai jalan. Dan, sensasinya enak banget. Bikin otak fresh. Yang punya jiwa cemen, coba nggak usah pikir yang enggak-enggak, kamu wajib coba naik perahu Kali Cokel, nggak boleh enggak. Tenang, di sana sudah dilengkapi fasilitas rompi pelampung. Jadi, aman.
Perahu terus berjalan, tiba-tiba perahu berbelok ke laut. Wah, sensasinya makin asyik. Pemandangan juga keren banget. Laut yang kita lalui menggunakan Perahu ini jadi satu sama Pantai Watukarung. Jadi, bisa dibilang kita juga mengunjungi Watukarung, kan?

video 
  video
Bayar 15.000 menurutku sangat murah karena apa yang kita dapatkan itu lebih dari harga 15.000. Pengalaman yang ‘nggak bisa dilupakan’. Rasanya, pengin bayar 15.000 lagi buat balik naik perahu mengulang view yang tadi sudah dilewati.
Empat tempat selesai di eksplor, kita lanjut ke Pantai Srau. Pantai ini terletak di Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Pacitan. Srau termasuk pantai yang sudah lama dikenal. Meskipun Srau sudah lama di kenal, namun kebersihannya sangat terjaga.
Srau bagian pantai yang ada karang bolongnya
Di sini ada tiga spot. Namun, kita hanya mengambil dua spot saja. Spot paling ujung, dan spot karang bolong. Yang nggak boleh dilewatkan adalah spot karang bolongnya. Kalau mau main air, disini juga lebih aman karena ombak yang tidak terlalu kencang, dan pantainya cukup landai.
Srau pantai paling ujung
Kalau di spot paling ujung, ombaknya cukup kencang dengan pantai yang daratannya kurang landai, duh bingung milih istilahnya. Gitu deh pokoknya, intinya agak bahaya buat main air di sana.
Enaknya main ke Pacitan itu harga makanannya standart banget. Kayak kelapa muda yang utuh harga cuma 6.000 – 8.000. Pop Mie 7.000. Dan, bayar kamar mandi juga masih 2.000. Harga tiket juga nggak mahal, cuma 5.000 aja. Jadi, kalo mau traveling yang pas di dompet, bisa coba ke Pacitan.
Ini foto-foto kita saat eksplor Pacitan. Semoga menginspirasi.
Pantai Kasap

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

View Raja Ampat Pantai Kasap






Pantai Sruni




Kali Cokel dan Watukarung















Pantai Srau














Narasi : Dian S Putu Amijaya (Ig @dianputu26)
Dokumentasi :
Ari P. Putu Amijaya (Ig @ariputuamijaya)
Fauziah Amanada PS (Ig @mandandaaa)
Reny Kusuma W (Ig @renykusuma)
Alin Amijaya


 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos